Sabtu, 30 Maret 2013

Berpikiran



Berpikiran
Silogisme adalah suatu bentuk penalaran yang berusaha menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan suatu kesimpulan atau inferensi yang merupakan proposisi yang ketiga. Kedua proposisi yang pertama disebut dengan premis.
Silogisme kategorial dibatasi sebagai suatu argument deduktif yang mengandung suatu rangkaian yang terdiri dari tiga (dan hanya tiga) proposisi kategorial, yang disusun menjadi tiga term yang muncul dalam rangkaian pernyataan itu, dan tiap term hanya boleh muncul dalam dua pernyataan, misalnya:
(1)   Semua karyawan adalah PNS.
(2)   Semua PNS adalah peserta Jamsostek.
(3)   Jadi, semua karyawan adalah peserta Jamsostek.
Dalam rangkaian diatas terdapat tiga proposisi: (1) + (2) + (3). Dalam contoh ini rangkaian kategorial hanya terdapat dalam tiga term, dan tiap term muncul dalam dua proposisi. Term preidkat dari konklusi adalah term mayor dari seluruh silogisme itu. Sedangkan subyek dari konklusinya disebut term minor dari silogisme. Sementara term yang muncul dalam kedua premis namun tidak muncul dalam kesimpulan disebut premis tengah.
Proposisi Silogisme
Dalam seluruh silogisme hanya terdapat 3 term, yaitu term mayor, term minor dan term tengah, dan dalam silogisme hanya terdapat tiga proposisi, yaitu dua proposisi yang disebut premis dan sebuah proposisi yang disebut konklusi.
(1)   Premis Mayor
Premis yang mengandung term mayor dari silogisme itu. Premis mayor adalah proposisi yang dianggap bennar bagi semua anggota kelas tertentu. Dalam contoh sebelumnya yaitu ‘semua karyawan adalah PNS’.
(2)   Premis Minor
Premis yang mengandung term minor dari silogisme itu. Premis mnor adalah prposisi yang mengidentifikasi sebuah peristiwa (fenomena) yang khusus sebagai anggota dari kelas tadi. Dalam contoh adalah ‘semua PNS adalah peserta Jamsostek’
(3)   Kesimpulan
Proposisi yang mengatakan bahwa apa yang benar tentang seluruh kelas juga akan benar atau berlaku bagi anggota tertentu. Dalam hal ini, jika benar semua karyawan adalah PNS, maka semua karyawan yang adalah peserta jamsostek juga harus merupakann PNS.
Dalam silogisme diatas peserta jamsostek merupakan term tengah karena bertindak sebagai penghubung antara term mayor dan term minor.
Menguji kesahihan dan kebenarannya
Untuk menilai silogisme harus dibedakan terlebih dahulu dua pengertian yang sering dikacaukan yaitu kesahihan (validitas;keabsahan)  dssn kebenaran (truth). Validitas dari suatu silogisme semuanya tergantung dari bentuk logisnya, sedangkan semua kebenaran tergantung dari fakta-fakta yang mendukug seua pernyataan. Bentuk logis sebuah silogisme ditentukan oleh:
(1)   bentuk logis dari pernyataan-pernyataan kategorial alam silogisme.
(2)   Cara penyusunan term dalam masing-masing pernyataan.
Bentuk sebuah silogisme adalah fungsi dari modul dan figure dari silogisme tadi. Contoh :
Premis mayor : manusia adalah makhluk berakal budi.
Premis minor  : Alibaba adalah seorang manusia
Kesimpulan    : sebab itu, Alibaba adalah mkhluk berakal budi.
Dalam contoh diatas, figure silogismenya adalah: manusia – makhluk berakal budi, alibaba – manusia, dan alibaba – makhluk berakal budi.  Atau dengan symbol S – P, O – S, O – P. Jadi menyatakan silogisme sama dengan menyebutkan figure dan modusnya.
Premis mayor dapat dibentuk proposisi A, E, I atau O. Demikian pula premis minornya. Berarti dari kedua premis ini dapat diperoleh 4 x 4 kombinasi atau 16 kombinasi. Selanjutnya dari 16 konbinasi ini dapat diturunkan untuk setiap masing – masing kombinasi atau konklusi yang bias berbentuk proposisi A, E, I, atau O. Dengan demikian akan dihasilkan modus sebanyak 64 modus. Karena setiap modus memiliki kemungkinan 4 figur bentuk silogistis maka dihasilkan 256 bentuk silogistis yang belunm tentu valid dan memerlukan pengujian terlebih dahulu.
Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotesis atau silogisme pengandaian adalah semacam pola penalaran deduktif yang mengandung hipotesa. Silogisme hipotesis bertolak dari suatu pendirian, bahwa ada kemungkinan apa yang disebut dalam proposisi itu tidak ada atau tidak terjadi. Premis mayornya mengandung pernyataan yang bersifat hipotesis. Oleh sebab itu rumus proposisi mayor silogisme ini adalah:
Jika P, maka Q
 Contoh 1:
Premis Mayor : Jika tidak turun hujan, maka Jazira akan pergi kencan.
Premis Minor   : Hujan turun
Konklusi          : Sebab itu Jazira tidak akan pergi kencan
Atau
Premis Mayor : Jika tidak turun hujan, maka Jazira akan pergi kencan.
Premis Minor   : Hujan tidak turun
Konklusi          : Sebab itu Jazira akan pergi kencan
Walaupun premis mayor bersifat hipotesis, premis minor dan konklusinya tetap bersifat kategorial. Premis mayor sebenarnya mengandung dua pernyataan kategorial, yang dalam contoh hujan tidak turun, dan Jazira akan pergi kencan. Bagian pertamanya disebut anteseden, sedangkan bagian keduanya disebut akibat.
Dalam silogisme hipotesis berasusmsi bahwa ‘kebenaran anteseden akan mempengaruhi kebenaran akibat; kesalahan anteseden akan mengakibatkan kesalahan pada akibatnya’.
Silogisme Alternatif
Jenis silogisme alternative biasa juga disebut dengan silogisme disjungtif, karena proposisi mayornya merupakan sebuah proposisi alternative, yaitu proposisi yang mengandung kemungkinan-kemungkinan atau pilihan. Sebaliknya proposisi minornya adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolak salah satu alternatifnya. Konklusi silogisme ini tergantung pada premis minornya, jika premis minornya menerima satu alternative maka alternative lainnya akan ditolak; dan jika premis minornya menolak satu alternative maka alternatik lainnya akan diterima dalam konklusi.
Contoh :
Premis Mayor : Zian ada di sekolah atau di rumah.
Premis Minor   : Zian ada di sekolah
Konklusi          : Sebab itu, Zian tidak ada dirumah
Secara praktis kita juga sering bertindak seperti itu. Untuk menetapkan sesuatu atau menemukan sesuatu secara sistematis kita bertindak sesuai dengan pola silogisme alternative diatas.
Entimem
Silogisme sebagai suatau cara untuk menyatakan pikiran tampaknya bersifat artificial. Dalam kehidupan sehari-hari biasanya silogisme itu muncul hanya dengan dua proposisi, salah satunya dihilangkan. Walaupun dihilangkan,proposisi itu tetap dianggap ada dalam pikiran dan dianggap diketahui pula oleh orang lain. Bentuk semacam ini dinamakan entimem (dari enthymeme>enthymema,yunani. Kata itu berasal dari kata kerja enthymeisthai yang berarti ‘simpan dalam ingatan’). Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung.
Misalnya sebuah silogisme asli akan dinyatakan oleh seoarang pengasuh ruangan olahraga dalam sebuah harian sebagai berikut:
Premis mayor  : Siapa saja yang dipilih mengikuti pertandingan Thomas Cup adalah seorang pemain kawakan.
Premis minor   : Rudy Hartono terpilih untuk mengikuti pertandingan Thomas Cup
Konklusi          : Sebab itu Rudy Hartono adalah seorang pemain (bulu tangkis) kawakan.
Bila pengasuh ruangan olahraga menulis seperti diatas dan semua gaya tulisan sehari-hari mengikuti corak tersebut, maka akan dirasakan bahwa tulisannya terlalu kaku. Sebab itu ia akan mengambil bentuk lain, yaitu entimem. Bentuk itu akan berbunyi,”Rudi Hartono adalah seorang pemain bulu tangkis kawakan, karena terpilih untuk mengikuti pertandingan Thomas Cup.”
Contoh lain:
Silogisme
PU: Binatang mamalia melahirkan anak dan tidak bertelur.
PK: Ikan paus binatang binatang mamalia.
K : Ikan paus melahirkan anak dan tidak bertelur.
Entimen
Ikan paus melahirkan anak dan tidak bertelur karena termasuk binatang mamalia.
Contoh entimem :
  1. Premis mayor  : Semua orang yang membuat banyak penelitian adalah sarjana besar.
Premis minor   : Prof. Hasan membuat banyak penelitian.
Konklusi          : Sebab itu, Prof.Hasan adalah seorang sarjana besar.
  1.  Premis mayor : Semua sarjana yang besar membuat banyak penelitian.
Premis minor   : Prof. Hasan adalah seorang sarjana besar.
Konklusi          : Sebab itu, Prof. Hasan membuat banyak penelitian .
Dengan mengembalikan entimem 1 dan 2 kebentuk silogismenya tampak bahwa proposisi yang dihilangkan itu adalah proposisi mayor. Dengan demikian proposisi minor dan konklusinya langsung dikaitkan dalam sebauh kalimat.


Sumber : Wikipedia

Senin, 22 Oktober 2012

Sumber Daya Konsumen Dan Pengetahuan

Teknilogi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.
Penggunaan teknologi oleh manusia diawali dengan pengubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sederhana. Penemuan prasejarah tentang kemampuan mengendalikan api telah menaikkan ketersediaan sumber-sumber pangan, sedangkan penciptaan roda telah membantu manusia dalam beperjalanan dan mengendalikan lingkungan mereka. Perkembangan teknologi terbaru, termasuk di antaranya mesin cetak, telepon, dan Internet, telah memperkecil hambatan fisik terhadap komunikasi dan memungkinkan manusia untuk berinteraksi secara bebas dalam skala global. Tetapi, tidak semua teknologi digunakan untuk tujuan damai; pengembangan senjata penghancur yang semakin hebat telah berlangsung sepanjang sejarah, dari pentungan sampai senjata nuklir.
Teknologi telah memengaruhi masyarakat dan sekelilingnya dalam banyak cara. Di banyak kelompok masyarakat, teknologi telah membantu memperbaiki ekenomi (termasuk ekonomi global masa kini) dan telah memungkinkan bertambahnya kaum senggang. Banyak proses teknologi menghasilkan produk sampingan yang tidak dikehendaki, yang disebut pencemar, dan menguras sumber daya alam, merugikan dan merusak Bumi dan lingkungannya. Berbagai macam penerapan teknologi telah memengaruhi nilai suatu masyarakat dan teknologi baru seringkali mencuatkan pertanyaan-pertanyaan etika baru. Sebagai contoh, meluasnya gagasan tentang efesiensi dalam konteks produktivitas manusia, suatu istilah yang pada awalnynya hanya menyangku permesinan, contoh lainnya adalah tantangan norma-norma tradisional.
bahwa keadaan ini membahayakan lingkungan dan mengucilkan manusia; penyokong paham-paham seperti transhumanisme dan tekno-progresivisme memandang proses teknologi yang berkelanjutan sebagai hal yang menguntungkan bagi masyarakat dan kondisi manusia. Tentu saja, paling sedikit hingga saat ini, diyakini bahwa pengembangan teknologi hanya terbatas bagi umat manusia, tetapi kajian-kajian ilmiah terbaru mengisyaratkan bahwa primata lainnya dan komunitas lumba lumba tertentu telah mengembangkan alat-alat sederhana dan belajar untuk mewariskan pengetahuan mereka kepada keturunan mereka

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi

Pengaruh Individu


1. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Intuisi yaitu Pengambilan keputusan yang berdasarkan perasaan hati yang seringkali bersifat subyektif. Pengambilan keputusan yang berdasarkan intuisi membutuhkan waktu yang singkat, untuk masalah-masalah yang dampaknya terbatas, pada umumnya pengambilan keputusan yang bersifat intuitif akan memberikan kepuasan sepihak dan bersifat perasaan.


Sifat subjektif dari keputusuan intuitif ini memberikan keuntungan, yaitu :
a. Pengambilan keputusan oleh satu pihak sehingga mudah untuk memutuskan.
b. Keputusan intuitif lebih tepat untuk masalah-masalah yang bersifat kemanusiaan

2. Pengambilan Keputusan Rasional yaitu Pengambilan keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan rasional berfikir dan lebih bersifat objektif. Keputusan yang bersifat rasional berkaitan dengan daya guna pikir. Masalah–masalah yang dihadapi merupakan masalah yang memerlukan pemecahan rasional. Keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan rasional lebih bersifat objektif dan dapat diukur.

3. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Pengalaman yaitu Pengambilan keputusan yang berdasarkan pengalaman-pengalaman yang diperoleh sehingga dapat digunakan untuk memperkirakan apa yang menjadi latar belakang masalah dan bagaimana arah penyelesaiannya. Keputusan yang berdasarkan pengalaman sangat bermanfaat bagi pengetahuan praktis di kemudian hari.

4. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta yaitu Pengambilan keputusan yang dibuat berdasarkan data empiris dan fakta nyata sehingga dapat memberikan keputusan yang valid sehingga tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi. Istilah fakta perlu dikaitkan dengan istilah data dan informasi. Kumpulan fakta yang telah dikelompokkan secara sistematis dinamakan data. Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan dari data. Dengan demikinan, data harus diolah lebih dulu menjadi informasi yang kemudian dijadikan dasar pengambilan keputusan.

5. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang yaitu pengambilan keputusan yang berdasarkan atas wewenang/kedudukan yang dimiliki oleh seseorang yang menjadi pemimpin. Setiap orang yang menjadi pimpinan organisasi mempunyai tugas dan wewenang untuk mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi yang efektif dan efisien.

Faktor – faktor yang dapat mendukung dinamika individu dalam organisasi adalah sbb :
a. Rasa tanggung jawab yang baik secara individu maupun kolektif. Setiap anggota organisasi yang menyadari makna tanggung jawab individu dan kolektif sangat menguatkan keputusan yanng diambil dalam organisasi. Kekutatan keputusan ini dapat memperlancar dalam menjalankan rencana kerja dan meraih visi dan misi yang telah ditetapkan.
b. Apa yang sudah dipelajari individu dalam organisasi harus segera diaplikasikan dalam pekerjaan. Ilmu yang tidak diaplikasikan bagaikan kapas diterpa angin dan tidak ada bobot sama sekali. Ilmu yang baru saja dipelajari akan menunjukkan bobot dan nilai jika segera diaplikasikan. Nilai tersebut dapat dilihat dari rencana-proses-hasil ketika mengaplikasikan ilmu itu.
c. Menjalankan teknik akselerasi. Artinya sebisa mungkin mendukung kegiatan setiap individu agar proses berorganisasi terjadi dengan lebih cepat dan baik. Setiap individu anggota organisasi harus menyadari bahwa mereka satu sama lain saling berhubungan dan bekerja sama. Teknik akselerasi yang ada di dalam organisasi adalah kerjasama dan sikap saling mendukung satu sama lain. Teknik akselerasi ini harus selalu dikembangkan pada individu supaya saling mendukung dan membantu anggota organisasi ketika memiliki rencana dan program kerja. Atas dukungan yang diberikan maka rencana dan program kerja akan berhasil.
d. Rencana pengembangan personal artinya individu harus mengerti bahwa sebuah organisasi tidak dapat menjamin mereka tentang lapangan pekerjaan seumur hidup namun organisasi dapat membantu individu untuk mengembangkan karir mereka. Harus ada kerjasama antara organisasi dan individu untuk menciptakan pengembangan karir jangka panjang.
e. Tersedia kesempatan yang seluas – luasnya untuk mengembangkan karir. Karir anggota individu di dalam organisasi dapat berkembang dilihat dari kemampuan dirinya dalam membuat keputusan. Keputusan yang diambil selalu membawa muatan kepentingan organisasi. Dari kemampuan tersebut secara tidak langsung individu tersebut dapat memimpin realisasi program kerja maupun organisasi itu.
f. Pembelajaran individu harus dihubungkan kepada pembelajaran organisasi secara struktur dan lebih eksplisit agar sinergis. Pembelajaran individu dan pembelajaran organisasi harus sejalan supaya tidak ada konflik yang akhirnya menggangu perkembangan satu sama lain. Keselarasan pembelajaran individu dan organisasi dalam penerapannya selalu berpedoman pada visi dan misi organisasi maka keselaran ini secara langsung dapat membuat organisasi semakin kuat dan berkembang.

Sumber : http://teddywirawan.wordpress.com/2012/03/02/pengambilan-keputusan-dasar-dan-kekuatan/ 

Pembelian


   Dalam perkembangan dunia usaha dewasa ini kegiatan pembelian dan penjualan berlangsung dengan sangat cepat dan dalam jumlah yang sangat besar, baik dalam memenuhi kebutuhanbahan baku maupun untuk kebutuhan persediaan barang yang akan dijual sehingga kecepatan dalam menangani pembelian dan penjualan sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing perusahaan dalam perkembangan dunia usaha. Demikian halnya dengan CV. PI Com Jaya Lestari,transaksi pembelian dan penjualan juga terjadi dalam jumlah dan frekwensi yangrelatif besar 
 
Oleh karena itu diperlukan penanganan yang cepat dan tepat, agar dapatmembantu kelancaran operasional perusahaan dan sekaligus meningkatkan pelayanankepada langganan, dengan pelayanan yang baik pada pelanggan, perusahaanmengharapkan makin banyak pembeli yang menjadi konsumen perusahaan ini. Agar  pembelian dan penjualan dapat berjalan lancar maka data-data yang menyangkut pembelian dan penjualan tersebut harus akurat. untuk itu diperlukan suatu sisteminformasi akuntansi yang dapat mendukung dan membantu segala pencatatanmengenai transaksi pembelian dan penjualan yang terjadi di perusahaan. Sisteminformasi akuntansi ini tentunya sangat dibutuhkan sekali oleh pihak luar maupun pihak perusahaan sendiri. Dalam hal ini, pembelian yang dilakukan oleh CV. PI ComJaya Lestari adalah pembelian kredit dan penjualan yang dilakukan adalah penjualantunai dan kredit.
 
Pembelian adalah suatu keigiatan yang meliputi penentuan barang-barang apayang akan dibeli, bila, berapa banyak, dimana dan bagaimana suatu barang akandibeli serta dengan harga berapa barang tersebut dapat dibeli (Moekijat, 1998,hal245).Sistem Informasi Akuntansi Pembelian berarti suatu sistem pembelian atausuatu sistem transaksi untuk mendapatkan barang-barang baik secara kredit maupu
 

Evaluasi Alternatif Sebelum Pembelian



Untuk menentukan konsumen yang akan dijadikan sebagai target pasar, maka pasar yang ada perlu dibagi atas beberapa segmen tertentu. Hal ini disebabkan bahwa di setiap pasar, konsumen mempunyai kebutuhan yang berbeda,pola pembelian dan pendapatan yang berbeda serta tanggapan yang tidak sama untuk setiap kebijaksanaan pemasaran yang diterapkan.

Pada dasarnya segmentasi pasar dapat dilakukan atas, dasar :
  1. Faktor demografi, seperti : umur, kepadatan penduduk, jenis kelamin; agama, pendidikan, tingkat penghasilan dan sebagainya.
  2. Faktor sosiologis, seperti : kelompok budaya, kelas-kelas sosial dan sebagainya.
  3. Faktor psikologis/psikografis, seperti : kepribadian, sikap, manfaat produk yang diinginkan, dan sebagainya
Proses pengambilan keputusan dalam membeli merupakan proses pemecahan masalah oleh konsumen mengenai produk atau jasa yang hendak dibeli dengan cara memilih perilaku yang ingin ditampilkan melalui tahapan-tahapan pembelian. Salah satu faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan dalam membeli adalah persepsi konsumen terhadap resiko. Situasi pembelian yang dirasakan oleh seorang konsumen dapat membuatnya mempersepsikan adanya resiko. Persepsi konsumen terhadap resiko merupakan proses di mana seorang konsumen menerima, mengenali dan memahami rangsangan yang datang pada dirinya, lewat indera-indera yang ada dan menimbulkan perasaan bahwa keputusan pembelian yang dibuatnya memiliki kemungkinan mendatangkan konsekuensi yang tidak menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persepsi konsumen terhadap resiko pada proses pengambilan keputusan dalam membeli personal computer. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik sampling incidental dengan jumlah subjek sebanyak 150 orang mahasiswa USU. Alat ukur pada penelitian ini adalah skala persepsi konsumen terhadap resiko dan skala proses pengambilan keputusan dalam membeli. Skala persepsi konsumen terhadap resiko disusun berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Schiffman dan Kanuk (2004) yang terdiri atas dua dimensi, yaitu ketidakpastian dan konsekuensi. Skala proses pengambilan keputusan dalam membeli disusun berdasarkan tahapan-tahapan proses pembelian yang dikemukakan oleh Engel (1995) yaitu tahap pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif sebelum pembelian, pembelian, konsumsi dan evaluasi alternatif setelah pembelian. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa (1) tidak ada pengaruh yang signifikan antara persepsi konsumen terhadap resiko pada proses pengambilan keputusan dalam membeli dengan p(0,116)>?(0,05), (2) Nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,170, (3) berdasarkan analisis regresi diperoleh nilai koefisien determinan (R2) sebesar 2,9%. Hal ini menunjukkan bahwa variabel persepsi konsumen terhadap resiko mempengaruhi variabel proses pengambilan keputusan dalam membeli sebesar 2,9%.

Minggu, 21 Oktober 2012

Kepribadian Nilai Dan Gaya Hidup


Pola kepribadian merupakan suatu penyatuan struktur yang multi dimensi yang terdiri atas self-concept sebagai inti atau pusat grafitasi kepribadian dan traits sebagai struktur yang mengintegrasikan kecenderungan pola-pola respon. Pola dalam arti bahasa merupakan bentuk atau model (suatu set peraturan) yang bisa dipakai untuk membuat atau untuk menghasilkan suatu dan bagian dari sesuatu.
Nilai dan Gaya hidup dalam perilaku konsumen sangat berkaitan erat dalam kaidah-kaidah menganalisa Perilaku Konsumen serta relevansinya dengan strategi market dalam membentuk sebuah konsumen yang kuat dengan produsennya.
Produsen tentu memiliki standar prosedur dalam menguasai pasar, tentunya apabila ingin memperoleh dan mendapatkan hati di para konsumen, hal-hal yang berkaitan dengan ini yaitu melakukan riset pemasaran, agar memperoleh hasil yang maksimal dalam proses penjualan.
Para pemasar berusaha menarik perhatian konsumen melalui karakteristik kepribadian mereka. Orang-orang periklanan dan pemasaran sering menggambarkan (ataumemasukkan) ciri atau sifat kepribadian khusus dalam berbagai pesan iklan mereka. Konsep kepribadian dibahas secara teoretis oleh para pakar melalui berbagai sudut pandang yang beraneka ragam, diantaranya menekankan pembahasan kepribadian pada pengaruh sosial dan lingkungan terhadap pembentukan kepribadian secara kontinu dari waktu ke waktu, serta menekankan pada pengaruh faktor keturunan dan pengalaman di awal masa kecil terhadap pembentukan kepribadian.
Tiga karakteristik yang perlu dibahas dalam pembahasan mengenai kepribadian adalah kepribadian mencerminkan perbedaan antarindividu, kepribadian bersifat konsisten dan berkelanjutan, dan kepribadian dapat mengalami perubahan. Kepribadian berkaitan dengan konsep diri dan bagaimana hal tersebut berpengaruh pada perilaku membeli. Semua teori perilaku konsumen dan kepribadian yang ada mendorong minat pemasaran terhadap studi kepribadian konsumen. Suatu strategi dapat berhasil pada suatu saat dan tempat tertentu tapi gagal pada saat dan tempat lain. Sehingga pemasar harus senantiasa memperhatikan kepribadian tiap konsumen untuk mencapai pasar sasaran yang tepat.
Cara berfikir manusia adalah sebuah ideologi atau gagasan yang bersifat idealistis yang dimiliki setiap manusia secara alamiah untuk menentukan suatu pola terarah dan memiliki sikap dalam menentukan banyak hal, hal inilah yang menjadi indikator bagi para pemasar, bagaimana mereka menganalisa sebuah pemikiran masyarakat agar mau membeli produk mereka.
Faktor-faktor lingkungan adalah suatu pola eksternal dalam mempengaruhi pola berfikir manusia dalam bersikap, yang akhirnya menjadi gaya hidup dan perilaku seseorang dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.
Pendapatan adalah sebuah hal pokok, yang akhirnya membentuk sebuah perilaku konsumen dalam bersikap dan juga memenuhi kebutuhan hidupnya, seorang yang memiliki pendapatan besar tentu memiliki gaya hidup yang berbeda dalam menjalani sebuah kehidupannya sehingga munculah sebuah perilaku konsumerisme, yaitu pola hidup yang berlebih-lebihan dalam mengambil keputusan untuk sebuah pola yang lebih dari apa yang dibutuhkan 
Sumber : http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/11/kepribadian-nilai-dan-gaya-hidup-dalam-perilaku-konsumen/

Pengaruh Individu


Perubahan lingkungan bisnis global yang sangat cepat menyebabkan perusahaan-perusahaan melakukan perubahan-perubahan termasuk merubah struktur organisasinya agar tetap dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga melanggengkan bisnis mereka. Tak terkecuali PT. BRI (Persero), melakukan serangkaian kebijakan penyesuaian organisasi ke dalam terutama melakukan perubahan organisasi dalam rangka mentransformasi BRI menjadi bank terkemuka dan dipilih masyarakat. Perubahan organisasi telah dilaksanakan setahun lalu (1-1-1998) dan secara bertahap diimplementasikan keseluruh jajaran kerja PT. BRI (Persero) di Indonesia. Perubahan yang telah dilaksanakan antara lain adalah merubah strukur organisasi lama menjadi struktur organisasi baru (lihat Lampiran). Perubahan organisasi dilakukan karena struktur organisasi lama dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi bisnis perbankan dewasa ini. Organisasi lama dianggap tidak fokus, tidak efisien serta tidak berorientasi kepada kepuasan konsumen. Dianggap tidak fokus karena satu Direktur menangani beberapa urusan yang satu dengan yang lainnya tidak searah bisnisnya. Sedangkan tidak efisien karena urusan-urusan tersebut ternyata tidak mandiri sehingga selalu tergantung kepada urusan lainnya. Perubahan organisasi yang dilakukan dalam perkembangannya bukan hanya merubah struktur organisasi PT. BRI (Persero) saja tetapi juga merubah seluruh tatanan didalamnya termasuk bidang yang paling menentukan yaitu Sumber Daya Manusia. Setelah perubahan organisasi Kantor Pusat PT. BRI (Persero) berjalan satu tahun ternyata pelaksanaan perubahan organisasi masih menghadapi beberapa kendala antara lain : 1. Masih adanya karyawan staf yang berperilaku kontra produktif, yang' ditunjukkan dengan masih cukup tingginya jumlah pekerjaan yang tertunda dan penyelesaian pekeriaan yang bukan prioritas utama. 2.masih adanya sikap kurang peduli di kalangan karyawan staf terhadap perubahan organisasi y. ang- dilakukan. Hal tersebut terlihat dari rendahnya partisipasi kawawan staf dalam setiap keputusan yang dibuat dalam proses perubahan organisasi . - 3. Masih adanya karyawan siaf yang belum meninggalkan sikap budaya kerja lama, sehingga produktivitasnya belum menampakkan peningkatan. Hal ini terlihat dengan masih cukup tingginya waMu yang dipergunakan untuk kegiatan non produktif. 4. Masih terlihat sikap pesimis karyawan staf tentang pelaksanaan perubahan organisasi. Sikap pesimis ini menganggap bahwa perubahan organisasi belum tentu berhasil meningkatkan kinerja PT. BRI (Persero). Berdasarkan beberapa indikasi tersebut diatas, maka rumusan masalah yang akan diteliti yaitu : bagaimana hubungan antara sikap karyawan terhadap perubahan organisasi dengan motivasi kerjanya ; bagaimana hubungan antara sikap dan motivasi kerja dengan produktivitas kerja karyawan staf ; serta adakah pengaruh sikap dan motivasi terhadap produktivitas karyawan staf. Sedangkan rumusan masalah manajerialnya adalah : bagaimana mengantisipasi sikap karyawan staf yang belum menerima perubahan organisasi serta bagaimana meningkatkan produktivitas kerja mereka pasta

 Sumber : http://repository.mb.ipb.ac.id/736/